Padang, Amakomedia.com – Keberlangsungan jalur Kereta Api Kayu Tanam–Padangpanjang dibahas dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD).
Diskusi yang diadakan di ruang rapat Senat Rektorat Kampus Unand Limau Manis, Rabu (18/2/2026) kemarin itu menghadirkan sejumlah pengamat dan pakar.
Diantara pembicara yang hadir Managing Director of Commercial and Business Development PT Kereta Api Indonesia, Rafli Yandra.
Ada juga Guru Besar Teknik Sipil Unand, Prof Febrin Anas Ismail, serta dipandu Ketua Pusat Studi Transportasi Unand, Ir. Yosritzal, Ph.D., dan pihak lain.
Paparan Rafli Yandra, Sumbar memiliki jaringan perkeretaapian yang cukup kompleks dan lengkap sebagai warisan pembangunan masa kolonial Belanda dan Jepang.
Namun perubahan dinamika ekonomi serta politik membuat sebagian jalur masih beroperasi, sementara jalur lainnya berhenti difungsikan.
Menurutnya, kondisi jalur tidak aktif menjadi tantangan besar yang memerlukan perhatian bersama.
“Perlu upaya serius melakukan reaktivasi dan pembaruan transportasi perkeretaapian di Sumbar agar bisa lebih maju dan berkontribusi pada pembangunan daerah,” ujarnya, dikutip Kamis (19/2/1026).
Sedangkan pihak Unand menilai, reaktivasi jalur kereta api memiliki potensi strategis sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Moda transportasi massal seperti kereta api dinilai mampu mengangkut penumpang dalam jumlah besar, lebih ramah lingkungan, serta memiliki performa yang diakui secara global.
“Khususnya untuk Sumbar, reaktivasi jalur kereta api dapat menjadi engine dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya dalam forum tersebut.
Meski memiliki nilai strategis tinggi, proyek ini diakui belum tentu memberikan keuntungan bisnis dalam jangka pendek.
Karena itu, diperlukan intervensi pemerintah, termasuk kemungkinan pemberian subsidi, agar pembangunan tetap berjalan demi kepentingan publik yang lebih luas.
Pandangan tersebut juga diperkuat pengalaman penggunaan kereta api di negara maju seperti Australia dan Inggris.
Di mana sistem transportasi rel menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat serta distribusi logistik.
Kesamaan visi seluruh pemangku kepentingan diyakini menjadi faktor penting untuk menghidupkan kembali jalur yang telah dibangun sejak era Hindia Belanda.
Febrin Anas Ismail menyatakan dukungannya terhadap rencana reaktivasi jalur Kayu Tanam–Padangpanjang, karena perannya strategis bagi sektor pariwisata dan logistik daerah.
Ia menekankan perlunya strategi komprehensif dengan melibatkan seluruh sumber daya dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga institusi pendidikan tinggi.
“Perguruan tinggi dapat menyusun peta besar, timeline, serta melakukan kajian-kajian mendalam seperti feasibility study,” jelasnya.
Maka dari itu, imbuhnya, semua stakeholder perlu berbagi peran agar arah pengembangan lebih terstruktur.
Ia menambahkan bahwa di berbagai negara maju, jaringan kereta api terbukti memberikan efisiensi dalam beragam aspek pembangunan.
“Di negara maju, jalur kereta api terbukti memberikan efisiensi dalam berbagai aspek, mulai dari mobilitas, distribusi barang, hingga penguatan destinasi wisata,” katanya.
Melalui penyelenggaraan FGD ini, Unand menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah dan industri dalam merumuskan kebijakan berbasis riset.
Pendekatan akademik diharapkan mampu memastikan proses reaktivasi jalur kereta api di Sumbar berjalan secara terarah, berkelanjutan, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Diskusi lintas sektor tersebut menunjukkan pengembangan transportasi kereta api bukan sekadar proyek infrastruktur.
Ini bagian dari strategi besar peningkatan konektivitas wilayah, penguatan ekonomi lokal, serta transformasi sistem transportasi menuju arah yang lebih modern. (*)
