Pariaman, Amakomedia.com – Hiburan rakyat bernama Buayan Kaliang (Buyan Kaliang) meramaikan iven wisata Piaman Barayo 2026.
Permainan tradisional ini sudah 70 tahun malang melintang di Pariaman, dan sudah menjadi bagian dari tradisi dalam setiap perayaan Lebaran.
Bagi pengunjung yang ingin naik Buayan Kaliang ini, lokasinya mudah dicari yaitu dekat Pantai Gandoriah Pariaman, di belakang Masjid Nurul Bahari, Kelurahan Pasir.
Secara struktur, Buayan Kaliang ini terbuat dari rangka kayu terdiri dari kotak segi empat sebagai bangku atau tempat duduk penumpangnya.
Alat ini digerakkan dengan tenaga manusia, dan setiap Buayan Kaliang terdiri dari empat kotak, tiap kotak buaya mampu menampung empat orang.
Pemilik Buayan Kaliang, Nurhayati (Mak Inun) mengatakan, Buayan Kaliang ini merupakan usaha turun temurun dari ayahnya Abang Ayo) sebagai pengelola pertama permainan ini di Pariaman.
“Dulu usaha ini dikelola ayah saya dengan 15 unit, setelah beliau meninggal usaha ini saya teruskannya sampai sekarang,” ungkapnya.
Sekarang, sebutnya, Buayan ini di Kota Pariaman hanya tiga unit yang bisa dimainkan karena keterbatasan tempat yang semakin sempit.
“Sisanya kami sebar di beberapa lokasi agar tetap bisa termanfaatkan dan menghasilkan,” jelas dia.
Mak Inun menerangkan, untuk naik Buayan Kaliang, pengunjung harus merogoh kocek sebesar lima ribu rupiah per orang.
Satu kotak buaya, diisi sekitar empat sampai enam orang, dan jika sudah penuh lalu diayun atau diputar oleh enam orang.
Ada harapan diungkapkan Mak Inun pada Pemko Pariaman yakni lokasi berdirinya Buayan Kaliang sekarang jangan sampai di cor semen.
“Biarkan saja seperti ini, berlantaikan tanah agar bisa orang yang mengayunnya lebih maksimal, dan mudah memasang tonggak kayu buayan,” pintanya.
Seorang pengunjung, Rini mengatakan, sampai sekarang dirinya masih suka naik Buayan Kaliang, karena ada tantangannya dan membuat adrenaline naik. (*)
