Amakomedia.com – Komposer muda asal Kota Padang, Dimas Hidayatullah sukses membawa musik tradisional Saluang Pauh masuk ke dalam ruang digital modern.
Kreasi musik digital tersebut ditampilkan Dimas bersama empat rekannya dalam acara Pekan Kebudayaan Daerah Saraso Fest kemarin malam.
Lewat karya berjudul Pauh in Resonance, Dimas mengambil repertoar tradisional bernama Pado-Pado asal Kuranji sebagai sumber utama komposisinya.
Penampilan panggung diawali karakter bunyi saluang kuat yang lambat laun berpadu dengan unsur elektronik berirama tekno yang dinamis.
Sentuhan teknologi digital sengaja digunakan untuk menciptakan tekstur suara baru tanpa sedikit pun menghilangkan identitas asli seni Minangkabau.
Dimas menegaskan, dirinya sama sekali tidak mengubah motif dasar tradisi melainkan hanya mengembangkannya lewat kombinasi perangkat musik elektronik.
“Konsep aransemen baru ini menggunakan pendekatan aliran World Electronic Music melalui eksplorasi teknik sampling serta looping audio digital,” kata Dimas.
Melalui metode tersebut, jelasnya, kesenian Pado-Pado berhasil disajikan sebagai komposisi unik yang mempertemukan kekuatan tradisi lokal dan modernitas zaman.
Ia melanjutkan, proses pembuatan karya inovatif ini memakan waktu selama dua bulan di tengah kesibukan padat dirinya sebagai mahasiswa UNP.
“Tantangan utama yang dihadapi sang komposer selama masa penggarapan adalah masalah pembagian waktu kuliah dengan jadwal latihan tim,” akunya.
Karya ini, terang dia, memperlihatkan bagaimana sebuah seni tradisional dapat berdialog secara apik dengan selera pasar musik masa kini dunia.
Jadi melalui pertunjukan kreatif tersebut Dimas membuktikan musik tradisional Minang bisa terus berkembang luas tanpa harus kehilangan akar budaya. (*/wak)

