Amakomedia.com – Kawasan di sepanjang garis Pantai Utara (Pantura) Jawa jadi perhatian Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Pasalnya, sepanjang kawasan ini cukup rentan terhadap ancaman banjir rob, parahnya lagi potensi bencana ini akan mengganggu stabilitas perekonomian secara makro.
“Menghindari agar hal ini tidak terjadi, dibutuhkan perlindungan infrastruktur yang memadai pada kawasan itu,” tukas AHY di Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Lebih lanjut AHY mengungkapkan, wilayah Pantura menghadapi tekanan ganda berupa penurunan permukaan tanah (land subsidence) dan kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.
Penurunan tanah, kata dia, terjadi antara 1 hingga 20 sentimeter per tahun, dengan kondisi terparah di Jakarta dan Semarang.
Sementara itu, kenaikan muka air laut mencapai 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun.
AHY memproyeksi hingga tahun 2050 kondisi genangan air laut akan semakin parah jika pemerintah tidak melakukan intervensi konkret hari ini.
Selain aspek ekonomi, kawasan Pantura dihuni oleh sekitar 55 juta penduduk di 20 kabupaten dan 5 kota.
“Sekitar 26 persen di antaranya tinggal tepat di garis pantai yang sangat rentan,” paparnya.
Dia menambahkan, disrupsi ekonomi dan ancaman korban jiwa akibat potensi banjir rob menjadi risiko nyata yang menghantui kawasan tersebut.
“Jadi kita (pemerintah, red) harus benar-benar melindungi kawasan itu dari potensi bencana tersebut,” ucap AHY.
AHY menyampaikan kondisi tersebut membuat pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa menjadi semakin mendesak.
Menurut AHY, kawasan Pantura Jawa memiliki nilai yang sangat strategis bagi pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kontribusi kawasan tersebut terhadap PDB nasional mencapai 27,53 persen atau setara US$ 368,37 miliar, sekitar Rp6.396 triliun,” katanya.
Sebagai episentrum ekonomi, jelasnya, kawasan Pantura menaungi 70 kawasan industri, lima pusat pertumbuhan industri, serta lima Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). (*)
