By
Dwigita T Purisa
Dari Tour Designer Minangkabau, Menggagas Green Tourism, hingga Menebarkan Inspirasi Melampaui Batas Negara
Tidak semua orang yang bekerja di dunia pariwisata bermimpi membangun destinasi. Ada yang memiliki mimpi lebih jauh: menjadikan pariwisata sebagai jalan untuk mengubah kehidupan manusia, menyelamatkan alam, dan mewariskan sesuatu yang bermakna bagi generasi mendatang.
Ada sosok yang menarik untuk diperhatikan dalam perjalanan perkembangan pariwisata Indonesia. Namanya Ridwan Tulus.
Ia bukan sekadar pelaku usaha perjalanan wisata. Ia memiliki cara pandang yang berbeda dalam memahami pariwisata.
Baginya, perjalanan bukan hanya tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menikmati pemandangan, menginap di hotel, atau mengabadikan foto di destinasi terkenal.
Pariwisata seharusnya mampu menghadirkan perubahan
Perubahan bagi wisatawan yang memperoleh pengalaman dan pembelajaran baru. Perubahan bagi masyarakat lokal yang mendapatkan kesempatan meningkatkan kesejahteraan. Dan perubahan bagi lingkungan yang harus tetap terjaga setelah wisatawan meninggalkan destinasi.
Pemikiran inilah yang kemudian menjadi warna tersendiri dalam perjalanan Ridwan Tulus sebagai seorang Tour Designer dan penggagas konsep Green Tourism.
Berawal dari keberanian untuk berbeda
Dalam dunia usaha pariwisata, sebagian besar operator perjalanan menawarkan produk yang relatif serupa. Destinasi, hotel, transportasi, jadwal perjalanan, dan harga menjadi bagian utama dari penawaran.
Ridwan Tulus justru mencoba keluar dari pola tersebut
Ia melihat bahwa setiap orang memiliki kebutuhan, ketertarikan, dan impian perjalanan yang berbeda. Karena itu, wisata tidak semestinya hanya dijual dalam bentuk paket perjalanan yang seragam.
Seorang Tour Designer, menurut pemikirannya, harus mampu menjadi sutradara yang merancang pengalaman.
Gagasan ini pernah mendapat perhatian khusus dari Prof. Dr. Musliar Kasim, mantan Rektor Universitas Andalas, yang mengenal Ridwan sejak lebih dari satu dekade sebelumnya.
Dalam tulisannya, Musliar Kasim mengungkapkan kekagumannya terhadap kreativitas Ridwan yang mampu menjadikan berbagai hal sebagai bagian dari sebuah program wisata.
Salah satu contoh yang sangat menarik adalah program bagi seorang anak dari keluarga miliarder Inggris yang justru memilih menghabiskan waktu tinggal di panti asuhan.
Bukan menginap di hotel mewah, bukan menikmati fasilitas eksklusif, tetapi menjalani kehidupan sehari-hari bersama anak-anak panti: belajar, bermain, makan, dan berinteraksi.
Pengalaman tersebut ternyata begitu membekas. Bahkan, ketika program berakhir, anak tersebut tidak ingin segera meninggalkan teman-teman barunya.
Di sinilah terlihat perbedaan antara menjual perjalanan dan merancang pengalaman kehidupan.
Ridwan seolah ingin menunjukkan bahwa pengalaman yang paling mahal belum tentu yang paling mewah. Terkadang, pengalaman paling berharga justru hadir ketika seseorang belajar memahami kehidupan orang lain.
Sotopreneurship: Mengubah perjalanan menjadi kesempatan berbagi
Sekitar awal tahun 2000-an, Ridwan mengembangkan pemikiran Social Tourism dengan pendekatan yang lebih luas.
Ia tidak ingin wisatawan hanya datang, menikmati fasilitas, berbelanja, lalu pulang. Ia ingin setiap perjalanan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan yang dikunjungi.
Dari pemikiran tersebut berkembang gagasan Social Tourism Entrepreneurship, yang kemudian ia sebut dengan istilah SOTOPRENEURSHIP.
Istilah ini memang unik. Terinspirasi dari salah satu makanan kegemarannya, soto, tetapi memiliki filosofi yang jauh lebih besar daripada sekadar nama.
Sotopreneurship mengajak orang untuk berusaha, berkarya, dan memperoleh manfaat ekonomi sambil berbagi serta membantu sesama dengan tetap menghormati martabat mereka yang dibantu.
Bantuan tidak boleh menjadikan masyarakat lokal sekadar objek belas kasihan. Sebaliknya, mereka harus menjadi pelaku, mitra, dan penerima manfaat yang memiliki kesempatan berkembang.
Dalam pendekatan ini, wisatawan, operator perjalanan, dan masyarakat lokal menjadi bagian dari sebuah ekosistem kebaikan.
Pariwisata tidak hanya menghasilkan transaksi ekonomi, tetapi juga membangun persahabatan, kepedulian sosial, dan kesadaran lingkungan.
Sebuah gagasan yang menarik karena mencoba mempertemukan dunia bisnis dengan nilai kemanusiaan.
Green Tourism: Ketika alam bukan sekadar objek wisata
Perjalanan pemikiran Ridwan kemudian berkembang menuju Green Tourism.
Bagi Ridwan, kata green bukan sekadar warna, simbol pepohonan, atau kegiatan menanam tanaman untuk kepentingan promosi.
Green Tourism harus menjadi filosofi dalam merancang dan mengelola destinasi.
Budaya harus dilindungi. Alam harus dijaga. Masyarakat lokal harus diberdayakan dan memperoleh manfaat. Konservasi harus menjadi bagian dari aktivitas pariwisata.
Filosofi yang sering ia sampaikan adalah:
Protect the Cultures, Protect the Natures, Empower and Bring Benefit for Local Peoples, and Support Conservation.
Pemikiran tersebut juga mendapat perhatian Prof. Elfindri yang menguraikan bahwa pariwisata semestinya tidak hanya menghitung nilai ekonomi yang dihasilkan, tetapi juga memperhitungkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Sebuah perjalanan harus memberikan nilai tambah bersih bagi seluruh pihak yang terlibat.
Wisatawan mendapatkan pengalaman bermakna. Masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dan sosial. Alam tidak semakin rusak, tetapi justru mendapatkan perhatian dan perlindungan.
Inilah perbedaan mendasar antara pariwisata yang sekadar mendatangkan orang dengan pariwisata yang benar-benar memberikan manfaat.
Pemikiran yang mendahului zamannya
Salah satu hal menarik dari Ridwan adalah keberaniannya mengembangkan gagasan yang pada masanya belum banyak menjadi perhatian pelaku industri.
Ketika keterbatasan biaya menjadi persoalan, ia justru mengembangkan pendekatan Paperless Office dengan memanfaatkan teknologi dan mengurangi penggunaan kertas.
Ia juga memperkenalkan ungkapan yang diadaptasi dari falsafah Minangkabau:
Alam Takambang Jadi Kantua
Jika alam adalah guru bagi manusia, maka alam semesta juga dapat menjadi kantor, ruang belajar, laboratorium, sekaligus sumber inspirasi untuk berkarya.
Pemikiran ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai lokal Minangkabau dapat diterjemahkan menjadi pendekatan bisnis dan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Bahkan, jauh sebelum pandemi COVID-19, Ridwan telah berbicara mengenai konsep Forest Healing dan Oceanic Healing, yakni bagaimana hutan dan lautan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan manusia.
Gagasan tersebut pernah ia sampaikan di hadapan para akademisi dan guru besar Sekolah Tinggi Ilmu Hayati ITB pada 2019.
Ketika pandemi kemudian melanda dunia dan industri pariwisata terpuruk, gagasan tentang wisata yang lebih dekat dengan alam, kesehatan, dan kualitas kehidupan justru semakin relevan.
Ketika gagasan dari Sumatera Barat mendapat perhatian internasional
Perjalanan Ridwan Tulus tidak berhenti di tingkat lokal. Tahun 2021 menjadi salah satu periode penting yang memperlihatkan bagaimana gagasannya memperoleh ruang apresiasi dari berbagai kalangan internasional.
Gagasan Social Tourism yang dikembangkannya menjadi bahan kajian akademik Naoki Fujimoto dari Ritsumeikan University, Jepang, melalui tesis tentang pemberdayaan masyarakat lokal dengan pendekatan Social Tourism Enterprise.
Pada tahun yang sama, sejumlah gagasannya memperoleh perhatian dari berbagai lembaga, perguruan tinggi, dan organisasi profesional.
Di antaranya:
– Mendapat kesempatan berbicara tentang Green Tourism dalam forum yang melibatkan Pacific Asia Travel Association dan Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia.
– Mendapat apresiasi dari Textile Art Council Amerika terhadap program Textile Odyssey – Meet the Makers, sebuah perjalanan budaya tekstil yang dirancang khusus bagi anggotanya.
– Mendapat perhatian dari kalangan profesional kesehatan di Amerika melalui gagasan Healthy Destination.
– Mendapat kesempatan berbicara dalam forum CEO Roundtable di Hong Kong.
– Mendapat penghargaan dari Enterprise Risk Management Academy, Singapura, atas gagasan Social Tourism.
– Diundang memberikan kuliah umum di sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Padjadjaran, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Trisakti.
Catatan perjalanan tersebut menunjukkan bahwa gagasan yang tumbuh dari Sumatera Barat ternyata dapat menjadi bahan diskusi dan inspirasi di berbagai lingkungan profesional dan akademik.
Yang menarik, Ridwan tidak hanya membawa nama perusahaan atau daerah, tetapi juga membawa gagasan tentang bagaimana pariwisata seharusnya memberikan makna yang lebih besar bagi kehidupan.
Bukan hanya membangun destinasi, tetapi membangun manusia
Salah satu sisi yang patut diperhatikan dari perjalanan Ridwan adalah perhatian terhadap pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Ia memahami bahwa destinasi kelas dunia tidak mungkin dibangun hanya dengan infrastruktur, promosi, dan investasi.
Dibutuhkan manusia yang memiliki kreativitas, karakter, keberanian berusaha, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Karena itu, gagasan Green Tourism kemudian dikembangkan melalui Green Tourism Institute.
Berbagai pendekatan pendidikan dan kewirausahaan mulai diperkenalkan, termasuk Quizta atau Kuliah Sambil Bisnis Pariwisata.
Melalui gagasan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori pariwisata di ruang kuliah, tetapi juga didorong untuk menciptakan dan menjalankan bisnis pariwisata sebagai bagian dari proses pendidikan.
Tujuannya sederhana tetapi mendasar: melahirkan generasi muda yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan peluang usaha dan memberikan solusi bagi lingkungannya.
Bagi Ridwan, kampus seharusnya tidak hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga melahirkan para pencipta perubahan.
Mengukur keberhasilan dari manfaat yang ditinggalkan
Ada satu pelajaran penting dari perjalanan seorang Ridwan Tulus.
Ia memperlihatkan bahwa kreativitas sering kali justru lahir dari keterbatasan.
Tidak semua gagasan membutuhkan modal besar. Tidak semua perubahan harus dimulai dengan proyek raksasa.
Bahkan, sesuatu yang sederhana dapat berkembang menjadi sebuah gerakan apabila memiliki visi, konsistensi, dan keberanian untuk memulai.
Tentu saja, perjalanan membangun gagasan seperti ini tidak selalu mudah. Ada tantangan, keterbatasan, dan jalan panjang yang harus dilalui.
Namun, yang menarik adalah bagaimana pemikiran tentang pariwisata terus dikembangkan, dibagikan, dan diperjuangkan.
Mungkin inilah makna menjadi seorang Tour Designer yang sesungguhnya
Bukan hanya merancang perjalanan wisata bagi orang lain, melainkan ikut merancang perjalanan perubahan bagi masyarakat.
Dunia pariwisata membutuhkan lebih banyak orang yang berpikir seperti ini. Orang-orang yang tidak hanya bertanya berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi juga bertanya:
Berapa banyak masyarakat yang kehidupannya menjadi lebih baik?
Berapa banyak budaya yang berhasil dipertahankan?
Berapa banyak kawasan alam yang terselamatkan?
Dan berapa banyak generasi muda yang memperoleh inspirasi untuk menciptakan masa depan?
Warisan yang lebih besar daripada sebuah perusahaan
Ridwan Tulus berasal dari Sumatera Barat, sebuah daerah yang memiliki kekayaan alam, budaya, filosofi, dan tradisi intelektual yang luar biasa.
Melalui Sumatra And Beyond dan Green Tourism Institute, ia mencoba menerjemahkan kekayaan tersebut menjadi gagasan pariwisata yang dapat dipahami dan dikembangkan dalam perspektif internasional.
Perjalanan ini tentu belum selesai.
Masih banyak destinasi yang membutuhkan sentuhan kreativitas. Masih banyak masyarakat yang membutuhkan kesempatan.
Masih banyak kawasan alam yang harus diselamatkan. Dan masih banyak anak muda yang perlu diyakinkan bahwa mereka dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat tanpa harus menunggu semuanya tersedia.
Pada akhirnya, dunia mungkin akan mengingat seseorang karena perusahaan yang dibangunnya, jabatan yang pernah dipegangnya, atau penghargaan yang diterimanya.
Namun, ukuran keberhasilan yang jauh lebih bermakna adalah ketika gagasannya tetap hidup, bahkan ketika dirinya tidak lagi berada di tengah-tengah orang yang pernah diinspirasinya.
Ridwan Tulus mungkin merancang perjalanan bagi banyak orang untuk menjelajahi dunia. Namun, perjalanan terbesarnya justru adalah mengajak dunia melihat pariwisata dengan cara yang berbeda.
Bahwa perjalanan yang paling berharga bukanlah perjalanan yang paling jauh, melainkan perjalanan yang meninggalkan kebaikan.
Sebab pada akhirnya, kita tidak hanya membutuhkan pariwisata yang menghasilkan uang.
Kita membutuhkan pariwisata yang menyelamatkan kehidupan.
Dan itulah esensi Green Tourism yang terus diperjuangkan.
We don’t sell destinations. We design impact-driven journeys. (*)
(Disclaimer: isi tulisan diluar tanggung jawab penerbit)

