Jakarta, Amakomedia.com – Sempat viral terkait perbandingan nilai keekonomian BBM antara Pertalite dan Pertamax, PT Pertamina (Persero) langsung memberikan klarifikasi
Perusahaan memastikan harga jual Pertamax saat ini tetap dipertahankan meski nilai aslinya melampaui harga Pertalite tanpa subsidi.
Isu yang viral di medsos pada Jumat (8/5/2026) ini mencuat setelah unggahan struk pembelian di media sosial.
Struk itu menunjukkan harga asli Pertalite mencapai kisaran Rp16.000 per liter, sementara konsumen hanya membayar Rp10.000 per liter.
Dilansir dari Money, selisih sekitar Rp6.000 tersebut merupakan subsidi yang dikucurkan oleh pemerintah untuk menjaga daya beli.
Publik kemudian mempertanyakan mengapa harga jual Pertamax yang memiliki kualitas RON 92 justru lebih rendah, yakni Rp 12.300 per liter di wilayah Jabodetabek.
Padahal secara teori, produk dengan kualitas lebih tinggi seharusnya memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan Pertalite dengan RON 90.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M.V. Dumatubun menjelaskan, Pertamax merupakan Jenis BBM Umum (JBU) yang harganya mengikuti mekanisme pasar.
Namun, pihaknya memutuskan untuk tidak melakukan penyesuaian harga sejak 1 April 2026 meskipun terjadi lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Roberth menyebut, pemerintah berkordinasi dengan Pertamina agar tidak dilakukan penyesuaian harga per 1 April 2026.
Kenapa? Ia menjelaskan, karena Pertamax ada untuk digunakan juga bagi masyarakat menengah yang mampu.
“Sementara (Pertamax) Turbo dan lain-lain adalah untuk yang menegah ke atas (kaya),” jelasnya.
Penahanan harga tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah demi menjaga stabilitas kondisi dalam negeri.
Roberth menambahkan, jika intervensi ini tidak dilakukan, harga Pertamax dipastikan akan melonjak signifikan mengikuti tren pasar internasional.
Jika Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya, maka harganya akan jelas lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi.
“Nah ini yang kadang missed, terlupakan bahwa harga Pertamax saat ini ada peran pemerintah didalamnya dan juga pertamina,” ungkapnya lagi.
Sebagai gambaran, produk nonsubsidi lain seperti Pertamax Turbo telah mengalami penyesuaian hingga mencapai Rp 19.900 per liter.
Hal ini menunjukkan adanya disparitas yang lebar jika harga Pertamax dilepas sepenuhnya ke mekanisme pasar tanpa kebijakan penahanan harga dari BUMN.
“Pemberian subsidi adalah untuk menjaga kestabilan nasional dari sisi menjaga daya beli dan roda perekonomian masyarakat,” pungkas Roberth.
Sebelumnya, Pemerintah sudah menegaskan tetap memfokuskan subsidi pada Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) seperti Pertalite.
Pasalnya, ini produk yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas. Langkah ini diambil melalui kajian mendalam untuk memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga. (*)
