Amakomedia.com – Istana Gubernuran Sumatera Barat (Sumbar) menjadi saksi momentum emosional bersatunya kembali hubungan darah ranah dan rantau.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menerima kunjungan silaturahmi delegasi akademisi Malaysia keturunan Minangkabau, Senin (7/9/2026).
Rombongan yang terdiri beberapa orang ini bernaung di bawah bendera Minang Diaspora Network Global.
Kunjungan ini didedikasikan untuk menelusuri kembali jejak sejarah, silsilah keluarga, serta mempererat kerja sama lintas negara.
Gubernur Mahyeldi menyampaikan apresiasi tinggi atas kepedulian para perantau yang kembali pulang untuk mengenali tanah leluhur mereka.
Pemprov Sumbar berkomitmen penuh untuk memfasilitasi keterhubungan generasi muda diaspora yang tersebar di Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, hingga Filipina agar tidak kehilangan akar budaya mereka.
“Kami ingin jejak-jejak hebat orang Minang di panggung internasional bisa dihadirkan kembali secara nyata melalui Minang Diaspora,” ujar Mahyeldi.
Ia mengaku, momen ini penting untuk memperkuat dokumentasi sejarah, mengingat kontribusi besar tokoh-tokoh Minangkabau bagi dunia.
Dirinya mencontohkan keberhasilan Pemprov Sumbar yang sebelumnya sukses merajut kembali komunikasi dengan keturunan ulama besar dunia asal Minang,.
Sebut saja misalnya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Yasin Al-Fadani.
Mahyeldi pun “menantang” para delegasi untuk memanfaatkan waktu sepekan di Sumbar guna melacak garis kekerabatan mereka di kampung halaman masing-masing.
Ketua Delegasi Minang Diaspora Network Global, Profesor Madya Nor Noolalisch A.B. Wahab mengungkapkan rombongannyaterdiri dari akademisi USIM dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
“Kunjungan ini mengusung misi penting karena membidik peluang kerja sama sistematis dalam pelestarian warisan budaya takbenda,” kata pengajar dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) ini.
Nor Noolalisch menceritakan bagaimana kuatnya jati diri Minangkabau yang mengakar di wilayah Negeri Sembilan, Malaysia.
Mulai dari dialek bahasa, kuliner, struktur adat keluarga, hingga tradisi kekerabatan harian dirawat dengan baik sejak kecil.
“Banyak perkara tentang Minangkabau di Negeri Sembilan yang ditampakkan secara langsung sejak kecil. Kita mungkin tidak perasan (sadar), tetapi jati diri Minangkabau itu tetap ada,” tuturnya.
Melalui riset akademik bersama, ia berharap kunjungan ini menjadi pemantik kolaborasi jangka panjang untuk mendokumentasikan sejarah bersama agar tidak lekang oleh zaman. (*/wak)

