Padang, Amakomedia.com – Universitas Bung Hatta (UBH) menggelar Lustrum ke-9, bertemakan “Transformasi Pendidikan Tinggi Menuju Universitas Berdampak dan Berdaya Saing Global”.
Hal yang menjadi spesial dari Lustrum kali ini, yakni hadirnya Sekretaris Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Med. Setiawan, dr., AIFM.
Kegiatan ini diadakan di Bung Hatta Convention Hall, Kampus Proklamator I, Jumat (8/5/2026).
Setiawan hadir memberikan Orasi Ilmiah kepada peserta yang datang pada Lustruk dan mengupas hal tentang Transformasi Pendidikan Tinggi.
Dalam orasinya, Sesditjendikti ini menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan tinggi di Indonesia saat ini.
Tantangan itu, terangnya, mulai dari kompleksitas persoalan global hingga dinamika perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat.
Perguruan tinggi (PT) saat ini menghadapi tantangan besar akibat revolusi industri 4.0, Society 5.0.
Selain ini juga alami perubahan geopolitik, perkembangan kecerdasan buatan, hingga tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis.
“Oleh karena itu, kampus harus mampu menyesuaikan diri melalui inovasi, riset, dan penguatan kualitas sumber daya manusia,” ucap Setiawan.
Ia juga memaparkan kondisi pendidikan tinggi Indonesia terkini yang membutuhkan transformasi menyeluruh agar mampu bersaing di tingkat global.
Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi harus mampu menciptakan dampak nyata melalui riset, inovasi, dan solusi terhadap persoalan masyarakat.
Dalam pandangannya, UBH memiliki kekuatan besar karena menyandang nama tokoh nasional Mohammad Hatta yang sarat dengan nilai integritas, kejujuran, dan intelektualitas.
Ia melihat UBH memiliki kekuatan dari nama besar yang melekat pada institusi ini.
Nilai-nilai Bung Hatta harus terus hidup dan dibawa oleh mahasiswa maupun alumni dalam kehidupan sehari-hari.
“Untuk itu, kampus ini harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai baik itu melalui ilmu pengetahuan dan kontribusi nyata kepada masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan kemajuan sumber daya manusia sangat ditentukan oleh kualitas dosen.
“Dosen menjadi motor utama transformasi pendidikan tinggi dalam membangun ekosistem pembelajaran yang inovatif dan adaptif,” tukasnya lagi.
Selain membahas tantangan pendidikan tinggi, Setiawan juga mengangkat amanat Presiden Republik Indonesia terkait arah pendidikan tinggi, sains, dan teknologi ke depan.
Perguruan tinggi, sebutnya didorong untuk mengutamakan inovasi dan penelitian guna mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara-negara maju.
Menurutnya, penguatan riset dan hilirisasi inovasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing bangsa.
Kampus menurutnya, juga harus mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan dampak langsung bagi pembangunan nasional.
Ia juga memaparkan pentingnya Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi sebagai fondasi menuju perguruan tinggi unggul dan berdaya saing global.
“Paradigma transformasi PT, sains, dan teknologi saat ini harus diarahkan pada konsep “Diktisaintek Berdampak” selaras dengan program prioritas Presiden,” paparnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar siap menghadapi tantangan peradaban baru di era digital.
Tantangan mahasiswa hari ini, tambahnya, adalah bagaimana menguasai teknologi namun tetap humanis.
“Literasi baru di era digital menjadi sangat penting, mulai dari literasi data, teknologi, hingga literasi manusia,” pungkas Setiawan.
Sementara, Rektor UBH Prof. Dr. Diana Kartika, menyampaikan, Lustrum ke-9 ini menandai perjalanan lima tahunan institusi, dan tahun ini UBH genap berusia 45 tahun.
“Perjalanan panjang ini telah mengantarkan UBH tumbuh dan berkembang menjadi perguruan tinggi yang unggul, siap berkompetisi, dan berdampak,” katanya.
Lustrum ke-9 UBH juga menjadi refleksi perjalanan Universitas Bung dalam dunia pendidikan.
Hal ini juga sejalan dengan visi UBH dan untuk capaian mimpi ini terdapat 5 tahapan milestone yang akan menjadi rambu-rambu menuju Entrepreneural University.
“UBH terus bertransformasi menjadi kampus yang berdampak, baik aspek akademik, tetapi juga dalam pengabdian dan kontribusi terhadap masyarakat,” kata Diana Kartika. (*)
