Amakomedia.com – Sulaman Kapalo Samek kini didorong menjadi produk unggulan Padangpariaman yang bernilai ekonomi dan mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
Jadi pengrajin tidak hanya belajar membuat sulaman, tetapi memahami cara merancang, mengembangkan, mengemas, serta membangun identitas produk agar bernilai.
Ini lah upaya dilakukan 20 pengrajin Sulaman Kapalo Samek dari Korong Pasia Baru, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau ikuti pelatihan, Sabtu (13/9/2026) kemarin.
Program ini diinisiasi Ketua TP PKK Kabupaten Padangpariaman, Nita Christanti Azis, sebagai bentuk komitmen memberdayakan perempuan serta UMKM daerah.
Pelatihan pengembangan desain dan inovasi produk UMKM berbasis kearifan lokal ini selama empat hari di Gedung Dekranasda.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai desain, inovasi produk, pengolahan wastra, serta strategi pemasaran agar karya mereka semakin dikenal luas.
Ada beberapa pemateri yang dihadirkan mulai dari desainer, akademisi, dan profesional nasional untuk memberikan wawasan baru mengenai pengembangan Sulaman Kapalo Samek ini.
Salah satu narasumber ialah Sjamsidar Isa atau Ibu Tjammy, tokoh mode dan tekstil yang berpengaruh dalam industri kreatif Indonesia.
Ibu Tjammy dikenal sebagai salah satu pelopor perkembangan fashion Indonesia modern dan pernah dipercaya memimpin Ikatan Perancang Mode Indonesia.
Narasumber lainnya adalah Didi Budiardjo, desainer nasional yang dikenal melalui karya adibusana, gaun malam, pengantin, serta kebaya bergaya feminin elegan.
Turut memberikan materi Dr. Suyin Pramono, akademisi dan profesional bidang desain produk, interior, heritage, batik, budaya, serta desain.
Suyin tercatat sebagai Specialized Lecturer bidang Design Entrepreneur and Product pada Program Master of Design BINUS University yang berbasis inovasi.
Selain itu, hadir Muhammad Rianto Utama atau Tommy Utama, profesional tenun, wastra, kriya, serta pengembangan perajin Indonesia di berbagai daerah.
RR Koesoemaningsih turut hadir sebagai desainer tekstil yang aktif mengembangkan dan merevitalisasi wastra Nusantara melalui berbagai program penguatan budaya.
Kehadiran para profesional tersebut menjadi kesempatan berharga bagi pengrajin Pasia Baru untuk memperluas wawasan mengenai pengembangan Sulaman Kapalo Samek.
Pengrajin tidak hanya belajar membuat sulaman, tetapi memahami cara merancang, mengembangkan, mengemas, serta membangun identitas produk agar bernilai.
Nita menilai, Sulaman Kapalo Samek merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga, sekaligus dikembangkan mengikuti kebutuhan dan selera pasar.
Menurutnya, pengrajin tidak cukup hanya mempertahankan teknik tradisional, tetapi juga perlu berani melakukan inovasi agar produknya memiliki nilai jual.
Ia menegaskan, kearifan lokal tidak harus membuat produk berhenti pada bentuk tradisional yang diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya.
“Kreativitas dan inovasi justru dapat mengemas kekayaan budaya menjadi produk modern tanpa menghilangkan karakter serta identitas daerah asalnya,” katanya. (*/wak)

