Amakomedia.com – Anggota Komisi VI DPR RI Rahmat Saleh menyatakan, ketahanan pangan nasional tidak boleh hanya diukur dari stok gudang semata.
“Pemerintah wajib memastikan seluruh hasil produksi petani serta nelayan lokal terserap pasar secara optimal demi mencegah kerugian massal,” ungkap Rahmat.
Pernyataan krusial tersebut disampaikan langsung saat kunjungan kerja Komisi VI ke kantor pusat Perum Bulog di Jakarta.
Pertemuan strategis tersebut disambut secara langsung oleh Direktur Utama Perum Bulog terbaru, yakni Ahmad Rizal Ramdhani.
Rahmat menegaskan, proses penyerapan hasil produksi sangat penting untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen pangan.
“Tanpa adanya kepastian pasar yang jelas, para petani serta nelayan terancam mengalami tekanan harga saat panen raya,” tukasnya.
Dia menyebut, pendapatan produsen pangan terancam anjlok parah jika peningkatan produksi nasional tidak diimbangi jaminan penyerapan dari pemerintah.
Ia melanjutkan, risiko hasil pangan menjadi terbuang percuma juga semakin tinggi, terutama bagi komoditas segar yang sifatnya mudah rusak.
“Dalam jangka panjang, masalah penyerapan ini dipastikan bakal mengganggu keberlanjutan sektor produksi pangan strategis nasional kita,” ucap Rahmat.
Dari dari itu, Bulog didorong untuk mengoptimalkan fungsi penyerapan komoditas utama seperti beras, jagung, kedelai, gula, hingga daging nasional.
Rahmat juga menyoroti pentingnya langkah stabilisasi harga serta pasokan pangan ketika terjadi bencana alam atau kelangkaan.
Dia juga menegaskan, penguatan infrastruktur distribusi sangat dibutuhkan agar pergerakan pasokan dari sentra produksi ke pasar berjalan lebih efisien.
Sinergi lintas sektor antara pemerintah, Bulog, BUMN, dan koperasi harus diperkuat lewat sistem data pangan terintegrasi.
“Sistem data yang akurat akan membuat proses pengadaan sekaligus penyaluran komoditas pangan menjadi jauh lebih efektif,” pungkasnya.
Rahmat juga menegaskan, ketahanan pangan sejati harus mampu menjamin para produsen mendapatkan penghasilan layak dari setiap hasil kerja kerasnya. (*/wak)

