Amakomedia.com – Dampak gempa yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), juga dialami sektor Pendidikan di daerah itu.
Berdasarkan data yang telah dirangkum oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen}, terdapat peserta didik dan tenaga pendidik menjadi korban gempa.
Wakil Menteri Kemendikdasmen, Prof. Dr. Atip Latipulhayat pada konferensi pers Kamis (20/8/2026)
menyampaikan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah penanganan.
“Tiga di antaranya peserta didik dan satu tenaga pendidik yang meninggal dunia, serta 38 ribu warga sekolah yang mengungsi,” ujar Atip.
Selain korban jiwa, sejumlah infrastruktur pendidikan juga terdampak.
“Gempa bumi berdampak pada 1.378 satuan pendidikan, dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat,” tuturnya.
Kerusakan masif ini membuat proses belajar mengajar terhenti. Namun semangat untuk tetap belajar tidak boleh padam. Penyesuaian dilakukan sesuai kondisi di masing-masing wilayah.
“Pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai akibat gempa susulan yang terus berlangsung,” imbuhnya.
Langkah selanjutnya Kemendikdasmen bersama BNPB dan instansi terkait bergerak cepat agar anak-anak NTT dapat kembali belajar di tengah situasi darurat.
“Saat ini akan didistribusikan tenda yang diharapkan dapat digunakan sebagai ruang kelas darurat bagi sekolah yang rusak berat,” pungkasnya.
Seperti diketahui, tim Kemendikdasmen sejak 16 Agustus 2025 telah tiba dan membawa bantuan yang telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak.
Selain itu, panduan pembelajaran di massa darurat yang berisi fleksibilitas moda dan materi dan dukungan psikososial telah diterbitkan untuk dapat digunakan. (*)

