Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    AmakoMedia – Berita Terpercaya dan AkuratAmakoMedia – Berita Terpercaya dan Akurat
    • Beranda
    • Nasional

      Pascakejadian di MAN 3 Padang, Kemendagri Tegaskan Peran Guru BK Harus Lebih Peka

      Juli 16, 2026

      Persiapan Iven BOM Run 2026 Masuki Tahap Akhir

      Juli 8, 2026

      Antisipasi Scam Digital, OJK Beri Penguatan pada Konsumen

      Juli 7, 2026

      Kepala BNPB: Nilai Bantuan Pembangunan Huntap Mandiri Diusulkan Naik

      Juli 6, 2026

      Padamkan Kebakaran TPA Jatiwaringin, Dua Heli Water Booming Dikerahkan

      Juli 1, 2026
    • Metro

      Kuasa Hukum Keluarga Korban Minta Usut Temuan Baru Dalam Rekonstruksi

      Juli 15, 2026

      Trase Tol Sicincin – Bukittinggi Dimatangkan Pascapenolakan di Nagari Kubang Putiah, Pemkab Agam Siapkan Alternatif

      Juli 15, 2026

      Pelaku Peragakan 38 Adegan Saat Rekonstruksi Pembunuhan di Damarus Cafe

      Juli 15, 2026

      Gudang Kopra di Seberang Padang Terbakar, Pemilik Rugi Rp50 Juta

      Juli 14, 2026

      Warga Lubuk Lintah Hibahkan Tanah Untuk Pelebaran Jalan Lingkung

      Juli 14, 2026
    • Ekonomi

      Tim Ahli DPRD Sumbar Kaji Penyebab Deviden Bank Nagari Turun

      Juli 7, 2026

      Rahmat Saleh Dukung Langkah Bersih-Bersih 750 BUMN

      Juli 1, 2026

      Resmi, Pemko Padang Gandeng BNS Untuk Pembayaran Gaji ASN dan Transaksi RUDK

      Juli 1, 2026

      Kembangkan Wisata Kuliner Pasar Tanah Kongsi, Pemko Padang Kolaborasikan Dua Aspek

      Juni 28, 2026

      BPS Canangkan SE2026 di Sumbar, Sonny: Sensus Ekonomi Tidak Terkait Kepentingan Perpajakan

      Juni 28, 2026
    • Olahraga

      Jumat Depan, POBSI Padang Pilih Ketua Baru

      Juli 15, 2026

      Warga Antusias Nonton Bareng Bersama Gubernur Mahyeldi

      Juli 12, 2026

      Swiss dan Argentina Bertemu di Perempat Final, Siapa yang Lebih Unggul?

      Juli 8, 2026

      FPTI Sumbar Bersiap Gelar Rakerprov, Tentukan Pengurus Baru dan Arah Pembinaan

      Juli 7, 2026

      Kepengurusan KONI Sumbar Digoyang, BAKI Putuskan Tolak Permohonan Pemohon

      Juli 6, 2026
    • Teknologi

      Pantau Kondisi Meteorologi Maritim, BMKG Operasikan Radar Frekwensi Tinggi di Pariaman

      Juli 3, 2026

      Fasilitas Robotic Surgery Perkuat Layanan Kesehatan RSU Bunda Padang

      Juli 2, 2026

      Bantu Aktivitas Pelari Pemula, Garmin Luncurkan Dua Tipe Smartwatch

      Mei 13, 2026

      Mobil Listrik China Buat Honda Ketar Ketir, Ini Tanggapan Toshihiro Mibe…

      April 26, 2026

      Telkomsel Perkuat Konektivitas Telekomunikasi di Jalur Ekstrem Sitinjau Lauik

      Maret 26, 2026
    • Edukasi

      Tidak Hanya Ngajar Materi, Guru Kini Harus Kuasai Pola Pikir HOTS

      Juli 12, 2026

      UNP Ajari 60 Asisten Dosennya Cara Buat Riset dan Publikasi Ilmiah

      Juli 7, 2026

      Prodi Saje Unand Tuan Rumah Seminar dan Lokakarya ASPBJI Korwil Sumbar–Riau 2026

      Juni 28, 2026

      Lagi Tujuh Guru Besar Dikukuhkan, Unand Pertegas Komitmen Jadi PTN Riset Bereputasi

      Juni 27, 2026

      Cegah Aksi Bullying di Sekolahan, Disdikbud Mentawai Bentuk Satgas

      Juni 26, 2026
    • Kesehatan

      Selama Mei 2026, BPOM Temukan Ratusan Kosmetik Ilegal di Berbagai Tempat

      Juli 14, 2026

      Fasilitas Robotic Surgery Perkuat Layanan Kesehatan RSU Bunda Padang

      Juli 2, 2026

      IPCN Salah Satu Elemen Penting Pelayanan Kesehatan di RS

      Juni 20, 2026

      Kompentensi IPCN Sumbar Diupgrade dalam Seminar PPI

      Juni 20, 2026

      Antisipasi Hantavirus Masuk, Menkes RI: Pemerintah Perkuat Sistem Skrining

      Mei 7, 2026
    • Opini

      Ancaman Pidana Minimum Korupsi Diturunkan, Apakah Sejalan dengan Semangat Pemberantasan Korupsi?

      Juni 26, 2026

      Mulainya Kurang Peminatan Permainan Tradisional pada Generasi Muda Minangkabau

      Juni 25, 2026

      Surau di Minangkabau: Jantung Pendidikan, Budaya, dan Pembentukan Karakter Masyarakat

      Juni 22, 2026

      Mengembalikan Budaya Tidur di Surau di Minangkabau

      Juni 17, 2026

      Tari Pasambahan: Ungkapan Penghormatan dalam Budaya Minangkabau

      Juni 11, 2026
    Beranda » Opini » Kekah dan Tradisi Syukuran Kelahiran Anak di Minangkabau
    Opini

    Kekah dan Tradisi Syukuran Kelahiran Anak di Minangkabau

    ArzilBy ArzilMei 25, 20265 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp Copy Link

    Oleh: Jasik Qairama, Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

    Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, hadirnya seorang bayi tidak hanya dianggap sebagai penambah anggota keluarga, tetapi juga sebagai anugerah yang membawa harapan baru bagi kaum dan keluarga besar.

    Karena itu, masyarakat Minang memiliki berbagai tradisi untuk menyambut kelahiran anak, salah satunya adalah tradisi kekah atau aqiqah.

    Tradisi kekah ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak. Selain sebagai ibadah dalam ajaran Islam, kekah juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

    Melalui tradisi ini, keluarga mengadakan doa bersama, berbagi makanan, dan mempererat hubungan dengan kerabat maupun tetangga.

    Sampai sekarang, tradisi ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat Minang, baik di kampung maupun di perantauan.

    Dalam budaya Minangkabau, adat dan agama memiliki hubungan yang sangat erat. Hal ini terlihat dalam pepatah adat yang berbunyi, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

    Filosofi tersebut berarti adat Minangkabau berlandaskan ajaran agama Islam. Oleh sebab itu, berbagai tradisi yang dilakukan masyarakat Minang sering kali mengandung nilai adat sekaligus nilai keagamaan, termasuk dalam pelaksanaan kekah.

    Biasanya, kekah dilakukan beberapa hari setelah bayi lahir. Dalam ajaran Islam, aqiqah dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran anak.

    Pada acara tersebut, keluarga akan menyembelih kambing sebagai bentuk syukur. Daging kambing kemudian dimasak dan dibagikan kepada keluarga, tetangga, serta masyarakat sekitar.

    Selain itu, acara juga diisi dengan doa bersama agar anak yang lahir diberi kesehatan, keselamatan, dan menjadi anak yang berguna bagi keluarga serta masyarakat.

    Di Minangkabau, acara kekah biasanya dilakukan dengan suasana kekeluargaan yang hangat. Keluarga besar akan datang membantu mempersiapkan acara.

    Kaum ibu biasanya sibuk memasak di dapur, sedangkan kaum laki-laki membantu mempersiapkan tempat dan menerima tamu.

    Tradisi gotong royong seperti ini menunjukkan kuatnya rasa kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

    Selain menjadi bentuk syukuran, kekah juga memiliki makna sosial. Melalui acara tersebut, hubungan antara keluarga dan masyarakat menjadi semakin erat.

    Orang-orang datang bukan hanya untuk makan bersama, tetapi juga memberikan doa dan dukungan kepada keluarga yang baru memiliki anak.

    Kehadiran masyarakat dalam acara kekah menunjukkan bahwa kehidupan orang Minangkabau sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan silaturahmi.

    Dalam beberapa keluarga Minang, tradisi kekah juga disertai dengan prosesi lain seperti mencukur rambut bayi dan pemberian nama.

    Rambut bayi yang dicukur melambangkan kebersihan dan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik.

    Sementara itu, pemberian nama biasanya dilakukan dengan penuh pertimbangan karena nama dianggap sebagai doa dari orang tua untuk masa depan anaknya.

    Masyarakat Minang percaya bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga dan dididik dengan baik. Karena itu, sejak bayi lahir, keluarga sudah memberikan berbagai doa dan harapan melalui tradisi kekah.

    Harapan tersebut tidak hanya agar anak tumbuh sehat, tetapi juga agar memiliki akhlak yang baik, menghormati orang tua, serta berguna bagi agama dan masyarakat.

    Nilai-nilai kehidupan dalam tradisi kekah juga dapat dilihat dari cara masyarakat Minang menghargai hubungan keluarga.

    Dalam budaya Minangkabau, keluarga besar memiliki peranan penting dalam kehidupan seseorang. Ketika ada acara seperti kekah, semua anggota keluarga ikut terlibat.

    Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan satu keluarga juga menjadi kebahagiaan bersama.
    Pepatah Minangkabau mengatakan, “Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang.”

    Artinya, segala sesuatu dikerjakan bersama-sama, baik dalam kesulitan maupun kebahagiaan. Pepatah ini sangat terlihat dalam pelaksanaan tradisi kekah.

    Persiapan acara dilakukan secara gotong royong tanpa membedakan status sosial. Semua saling membantu agar acara berjalan dengan baik.

    Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan tradisi kekah mengalami beberapa perubahan. Dulu, acara biasanya dilakukan secara sederhana di rumah dengan melibatkan masyarakat sekitar.

    Kini, ada sebagian keluarga yang melaksanakan kekah di gedung atau menggunakan jasa katering agar lebih praktis.

    Walaupun begitu, makna utama dari tradisi tersebut tetap sama, yaitu sebagai bentuk rasa syukur dan sarana mempererat hubungan sosial.

    Modernisasi memang membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat, tetapi tradisi kekah tetap bertahan karena memiliki nilai yang penting.

    Banyak generasi muda Minangkabau yang masih mempertahankan tradisi ini meskipun hidup di kota besar atau di perantauan.

    Hal ini menunjukkan bahwa budaya Minangkabau masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern.

    Selain itu, tradisi kekah juga mengajarkan nilai berbagi kepada sesama. Makanan yang dimasak dalam acara kekah biasanya dibagikan kepada tetangga dan masyarakat sekitar.

    Tindakan ini mengandung pesan bahwa kebahagiaan sebaiknya tidak dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada orang lain.

    Nilai seperti ini sangat penting untuk menjaga hubungan baik antar sesama manusia.

    Dalam kehidupan masyarakat Minang, adat bukan hanya sekadar kebiasaan lama, tetapi juga pedoman yang mengajarkan nilai moral dan sosial.

    Tradisi kekah menjadi salah satu contoh bagaimana adat dan agama berjalan berdampingan dalam kehidupan sehari-hari.

    Tradisi ini mengandung rasa syukur, doa, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang masih relevan hingga sekarang.

    Pada akhirnya, kekah bukan hanya acara syukuran atas kelahiran anak, tetapi juga simbol kasih sayang dan harapan keluarga terhadap masa depan anak tersebut.

    Di balik hidangan dan doa yang dilakukan, terdapat nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan pentingnya kebersamaan, rasa syukur, dan hubungan baik antar sesama.

    Sebagai generasi penerus, masyarakat Minangkabau perlu menjaga tradisi seperti kekah agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

    Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Minang yang mengandung banyak pelajaran kehidupan.

    Dengan mempertahankan tradisi tersebut, nilai-nilai kebersamaan dan rasa syukur akan terus hidup dalam kehidupan masyarakat hingga masa yang akan datang. (*)

    (Disclaimer: isi dalam tulisan diluar tanggung jawab penerbit)

    budaya minangkabau opini tradisi kekah
    Share. Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Email Copy Link

    Berita Terkait

    Opini Juni 26, 2026

    Ancaman Pidana Minimum Korupsi Diturunkan, Apakah Sejalan dengan Semangat Pemberantasan Korupsi?

    Opini Juni 25, 2026

    Mulainya Kurang Peminatan Permainan Tradisional pada Generasi Muda Minangkabau

    Opini Juni 22, 2026

    Surau di Minangkabau: Jantung Pendidikan, Budaya, dan Pembentukan Karakter Masyarakat

    Opini Juni 17, 2026

    Mengembalikan Budaya Tidur di Surau di Minangkabau

    Leave A Reply Cancel Reply

    Tentang AmakoMedia
    Tentang AmakoMedia

    Media nasional AmakoMedia menyajikan berbagai macam berita, artikel, opini yang terpercaya, akurat dan terkini.

    Alamat :
    Perumahan Siteba Jalan Pasaman II no. 170 Kota Padang, Sumatera Barat, Padang, Sumatera Barat.

    Email : admin@amakomedia.com

    Berita Terbaru

    Pascakejadian di MAN 3 Padang, Kemendagri Tegaskan Peran Guru BK Harus Lebih Peka

    Juli 16, 2026

    Kuasa Hukum Keluarga Korban Minta Usut Temuan Baru Dalam Rekonstruksi

    Juli 15, 2026

    Trase Tol Sicincin – Bukittinggi Dimatangkan Pascapenolakan di Nagari Kubang Putiah, Pemkab Agam Siapkan Alternatif

    Juli 15, 2026

    Mendaftar ke Newsletter

    Dapatkan berita terbaru dengan mendaftar ke Newsletter

    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    © 2026 Designed by Nextgen.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.