Padang, Amakomedia.com – Praktisi Pariwisata Sumbar, Muhammad Zuhrizul menyoroti stagnasinya tingkat kunjungan wisatawan mancanegara Sumbar.
Dari pengamatannya, tingkat kunjungan wisman ini ke Sumbar diangka 30.000 – 50.000 orang dalam berapa tahun belakangan.
“Jadi Pemprov Sumbar harus berfikir keras dan mencari solusi melakukan terobosan untuk diusulkan ke pemerintahan pusat,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Ia menerangkan, dengan adanya terobosan dan usulan seperti itu, menjadikan potensi wisata alam dan budaya Sumbar yang beragam dapat diakses langsung wisman.
Contohnya, potensi wisata bahari yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Tempat ini jelas membutuhkan akses agar bisa mudah dijangkau bagi wisman.
Dengan adanya akses ini, lanjutnya, mereka tidak perlu transit dulu ke Kota Padang dan melanjutkan dengan pesawat perintis atau kapal Ferry ke Mentawai.
“Itu membuat cost wisman menjadi mahal dan waktu yang menyesuaikan dengan jadwal penerbangan pesawat perintis dan kapal Ferry ke Mentawai,” ucapnya.
Wisatawan manca negara ke Mentawai, terang Zuhrizul, rata rata membawa papan selancar yang jelas akan sangat merepotkan wisatawan untuk transit.
“Membayangkan pesawat dari berbagai negara langsung terbang ke Mentawai dan memiliki kantor imigrasi sendiri adalah mimpi wisatawan dan pelaku wisata,” tukasnya.
Koordiantor TP2Dewi Sumbar ini menerangkan, Pulau Mentawai layaknya Pulau Dewata Bali yang bisa diakses penerbangan dari berbagai negara di dunia
Dirinya meyakini, dengan adanya askes yang lebih mudah, ke depan Mentawai akan menjadi episentrum pariwisata di wilayah Barat Indonesia.
Mentawai ini posisinya lebih dekat dari negara-negara di Asia dan jadi pilihan alternatif terbaik bagi limpahan wisatawan Eropa yang banyak di Singapura
“Ini tentunya menjadikan Mentawai sebagai hub tourism dimana cost nya lebih murah di banding mereka harus ke Bali atau lombok apalagi Raja Ampat,” kata Zuhrizul.
Dia melanjutkan, dengan menjadinya hub tourism, tentunya amenity hotel, restourant dan fasilitas lainnya dari pihak swasta di Mentawai pasti disiapkan.
“Pengembangan ini pastinya beriringan dengan proses pembangunan bandara internasional yang lebih representatif di Mentawai yang dilakukan Pemprov Sumbar,” tukuknya.
Zuhrizul menambahkan, secara budaya masyarakat asli Kabupaten Mentawai memang berbeda dengan daerah-daerah kabupaten kota lainnya di Sumbar.
“Nah, dengan keunikan budaya inilah membuat Mentawai sangat memiliki potensi besar untuk wisatawan asing yang lebih menyukai wisata pantai,” ulasnya.
Kemudian, dari sisi pemerintahan, Zuhrizul meminta Pemprov Sumbar perlu juga meyakinkan pemerintahan pusat tentang potensi wisata yang dimiliki Mentawai ini.
“Mentawai akan jadi episentrum wisatawan manca negara di Indonesia Wilayah Barat ditambah lagi dengan potensi ombak surfingnya yang mendunia,” bebernya.
Ia juga membandingkan Sumbar dengan Sumut, dimana daerah tetangga itu memiliki 2 bandara internasional yakni Kuala Namu dan Sibolangit.
Sementara, terangnya, dari potensi wisatanya, daerah tetangga kita itu tidak jauh lebih bagus yang dimiliki Sumbar.
“Namun kenapa Sumbar tidak hal serupa itu? Dengan adanya 2 bandara internasional wisatawan bisa lebih mudah mengakses ke Mentawai,” pungkasnya.
Melihat kenyataan ini, dirinya menyarakan, Sumbar harus miliki ide ide lebih dan tidak lagi berkutat dengan hal-hal normatif.
Dan tidak menjadi perdebatan publik tentang bagaimana ekonomi Sumbar untuk bangkit di angka 3 persenan dan terbawah di Sumatera. (*)
